Kepiluan Natalia Tjahja Mengenang Putrinya Maria Monique
Kepiluan Natalia Tjahja Mengenang Putrinya Maria Monique

Air mata Natalia Tjahja, 36, belum habis meski putri tercintanya, Maria Monique,7, sudah tenang di sisi Tuhan. Perjuangan putrinya saat melawan penyakit ganas membuatnya tabah menghadapi cobaan hidup. Sekarang, dia hanya bisa mengenang. Ditemui di sebuah Plaza, di Jakarta Pusat, Natalia dengan kemeja bermotif putih dan mengenakan kacamata tetap tidak bisa menyembunyikan matanya yang masih sembab. “ Maaf, saya pakai kacamata karena mata saya sembab. Saya masih sering menangis,” kata wanita asal Jakarta ini.

Dikisahkannya, rasa kehilangan putri satu-satunya tidak akan pernah hilang oleh waktu. Natalia mengaku sudah ikhlas kepertgian putri satu-satunya. Monique yang lahir pada 5 Juli 1998 adalah bayi perempuan sehat dan kulit putih yang segar agak kemerah-merahan.

Monique termasuk anak yang cerdas dan cenderung tidak ingin menyusahkan Natalia yang saat ini berstatus single parent. Karena saat berusia 4 tahun , Monique harus menerima kenyataan berpisah dengan ayahnya. Namun, Monique adalah anak yang ramah, menyenangkan dan lincah. Tidak mengherankan, hobinya saja nonton sinetron. Bisa dibilang, Monique tidak termasuk anak yang mudah sakit. Paling-paling hanya flu saja yang suka mampir ke tubuhnya yang mungil.

Namun, pada Minggu 1 Januari 2006, semuanya berubah. Tiba-tiba suhu badan Monique mencapai 39 derajat Celsius. Natalia memang tak langsung membawa Monique ke dokter. Dia hanya memberi obat penurun panas. Tapi ternyata, panasnya masih saja tinggi.

Takut panas Monique berkepanjangan, Natalia membawa ke dokter. Dokter memberi antibiotic dan berpesan agar kembali lagi jika tiga hari panasnya tidak turun. Tiga hari Monique masih lemas dan suhu badannya masih tinggi. Natalia membawa ke dokter yang lain. Obat yang diberikan sama, yaitu antibiotic. Hasilnya sama saja, tidak mempan.

Natalia pun akhirnya membawa Monique ke dokter internis Dr Herdiman Pohan. Setelah diberi obat, panasnya sempat turun dan bahkan badan Monique bisa mengeluarkan keringat. Tapi tetap saja, tak membawa kesembuhan Monique. Bahkan, trombosit Monique turun menjadi 70 ribu bahkan mencapau 40 ribu.

Akhirnya Monique dipindahkan ke sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan. Lima hari Monique harus dirawat. “ Tapi terlalu jauh dari rumahm saya pindahkan Monique ke rumah sakit yang dekat dengan rumah saja,” ungap Natalia. Dia tinggal di Puri Kembangan, Jakarta Barat.

Saat berpindah ke rumah sakit, suhu badan Monique masih tinggi, yaitu 39 derajat Celsius. Natalia heran dengan daya tahan Monique. Di saat suhu badan tinggi, Monique masih bisa berkomunikasi. Akhirnya Monique dibawa ke UGD.

Setelah diperiksa ternyata trombosit Monique negative. Dokter mencurigai Monique menderita leukemia atau kanker darah. Hingga akhirnya dokter meminta untuk dilakukan pengambilan cairan sumsum tulang belakang. “ Saya enggak setuju karena resikonya besar,” ungkap Natalia.

Monique pun akhirnya harus mendapat suntikan imonoglobin tiga kali sehari dan sekali suntik Rp. 5 juta. Saat itu Monique harus dirawat di ruang ICU. Natalia juga mengisahkan perawat pernah mengambil darah hingga wajah Monique membiru.

Karena tidak ada perkembangan, Monique pulang ke rumah. Pulang ke rumah, suhu badan Monique justru turun menjadi 37 derajat Celcius. Tapi beberapa hari di ruma suhu badan kembali naik dan disertai sesak napas.

Tapi, Natalia memilih obat China. “ Saya obati dengan Beijing Tong Renthang, dokter dari China dan panasnya malah turun,” ungkapnya. Namun Monique tidak melanjutkan meminum obatnya karena terlalu pahit.

Pada 11 Februari, panas Monique kembali tinggi hingga 40 derajat Celcius. Natalia tambah panik karena panas badan disertai dengan batuk yang keluar darah, meskipun sedikit. Natalia akhirnya memilih membawa Monique ke rumah sakit terdekat.

Lalu kenapa tidak dibawa ke RS lain? “Saya ingin memberi kesempatan, siapa tahu bisa temukan penyakitnya,” kilahnya. Di RS itu, Monique kembali diberi antibiotic. Kembali, dokter mengklaim leukemia.

Tapi ketika diperiksa ke RSCM, hasilnya bukan leukemia. Selama tiga hari, Monique terus gelisah. Ternyata Monique butuh oksigen yang banyak. “ Di saat kritis itu, dia malah menahanbatuk dan berkata ‘aku sudah sembuh kok mami’,”katanya. Karena kondisi semakin parah, maka Monique harus transfuse darah. Tapi ternyata persediaan darah O tidak ada. Pertimbangan lain adalah sedot sumsum tulang belakang ke Singapura. Nah, di saat kondisi kritis, ibunda Natalia yang menjaga Monique berteriak karena kondisi Monique yang tersengal-sengal. Ternyata oksigen yang masuk ke tubuh Monique kurang.

“Teriakan mamiku memanggil anakku, (Maria Monique), masih terngiang di telingaku. Teriakan itu dating berulang kali dari ruang perawatan anak perempuanku satu-satunya di sebuah rumah sakit swasta di daerah Jakarta Barat. Saat itu, aku mendengarnya hampir tiga kali,” kata Natalia mengawali cerita memilukan tentang anaknya.

Suaranya yang lantang hingga dinding di lantai 3 itu bergema. Natalia yang sedang berada di ruang perawat langsung berlari menuju ruangan Monique. Ibunda Natalia yang saat itu mengatakan kalau napas Monique tersengal-sengal. Mungkin karena selang oksigen kurang masuk. Bahkan, monitor penunjuk detak jantung grafiknya sudah mendatar. Dokter mengatakan secara klinis, Monique sudah meninggal dunia. “Saya menangis dan meminta Tuhan untuk tidak mengambil Monique,” ungkapnya. Doa Natalia terkabul. Di ICCU, tiba-tiba detak jantung Monique kembali ada. Karena masih bingung dengan penyakit yang diderita Monique, akhirnya Natalia memeriksakan ke Dr Herdiman Pohan. Dari dokter internis ini, diketahui ada bakteri sepanjang 2 cm melambai di katub jantung.

Pada 18 Februari diputuskan untuk dioperasi. Tapi kekecewaan kembali datang. Sang dokter memilih cuti daripada melakukan operasi. Di saat yang kalut, Natalia berencana membawa ke RS Harapan Kita. Ternyata, RS khusus jantung itu penuh. Akhirnya 19 Februari diputuskan membawa ke Singapura. Natalia membawa Monique ke Singapura dengan pesawat cateran. “Kenapa carter karena anak saya pakai mesin, tiba di RS Mount Elizabeth langsung ditangani di ICCU,” katanya. Dokter langsung mendiagnosa ada bakteri di jantung yang sudah menyebar di paru-paru. Bakteri yang menyebar Monique bernama achinatobacter baumanii, enterobacter cloace, dan sterecoccus. Dokter menduga semua itu berawal dari cabut gigi.

Dengan berbagai peralatan, Monique mendapat perawatan intensif. Tapi Monique kembali kolaps. Detak jantungnya berhenti. Natalia kembali menangis meminta dokter membantu. Dan benar, lima menit kemudian jantung Monique kembali berdetak. Keajaiban kembali terjadi. Saat itu jantung Monique kembali terhentil. Bahkan saat itu, detak jantung berhenti selama satu jam. Dokter pun sudah mengatakan Monique sudah meninggal. Tangis kembali pecah. Namun keajaiban Tuhan datang lagi karena jantung kembali berdetak. Setelah dilakukan semua upaya dari tim dokter yang berjumlah delapan orang, RS Mount Elizabeth mengaku sulit untuk menyembuhkan. Apalagi saat sudah terjadi brain damage (kerusakan otak). Berbagai operasi sudah dilakukan. Akhirnya pada 27 Maret, Monique menghembuskan napas terakhirnya. Dan kali ini detak jantungnya terus berhenti dan tak kembali berdetak seperti peristiwa sebelumnya.
    Copyright©2007. Maria Monique Foundation. All Rights Reserved.